Jumat, 09 Januari 2015

SUCKER ROD PUMP (SRP)_Lengkap

Posted in  , ,   with   No comments      Edit
SUCKER ROD PUMPING
(POMPA ANGGUK)
(SRP)






 PENDAHULUAN

Metoda pemakaian Pompa Angguk atau Sucker Rod Pump (SRP) digunakan apabila suatu sumur minyak sudah tidak dapat lagi mengangkat fluida dari dasar sumur ke atas permukaan secara sembur alam, atau dengan menggunakan metoda yang lain misalnya gas lift tidak memenuhi persyaratan.

Dalam hal ini yang demikian energi dari reservoir hanyalah digunakan  untuk mengalirkan  fluida dari reservoir ke lubang sumur dan permukaan cairan naik dalam lubang sumur tidak sampai permukaan, sehingga perlu dilakukan pengangkatan buatan (artificial lift).
Maka dengan demikian perlu dipikirkan untuk  mengeluarkan fluida sumur tersebut dengan menggunakan tenaga pengangkatan buatan ( artificial lift methods).
Metode Pengangkatan (Lifting Methods):
1. Natural Flow (Sembur Alam)
2.  Pengangkatan Buatan (Artificial Lift)
      a. Gas Lift  (Sembur Buatan)
      b. Pumping (Pompa)
 Adapun jenis pompa banyak macamnya  diantaranya adalah:
Ø      Sucker Rod Pumping (SRP)
Ø      Electric Submersible Pump (ESP)
Ø      Hydraulic Pump
Ø    Pogressive Cavity Pump (PCP)

Pompa Angguk atau Sucker rod pump adalah sistem pompa yang paling banyak digunakan didunia. Sekitar 90 % dari semua sumur  pompa (500.000) di USA menggunakan artificial lift, dan 85 % adalah SRP.


Keuntungan dan Kerugian Pompa Sucker Rod
Kelebihan Pompa Sucker Rod adalah :
1.      Tidak mudah rusak.
2.      Mudah diperbaiki di lapangan.
3.      Fleksibel terhadap laju produksi,  jenis fluida dan kecepatan bisa diatur.
4.      Keahlian orang di lapangan sangat baik.
5.      Dari jauh akan terlihat tidak ada gerakan kalau pompa mati.
6.      Harganya relatif murah.

Sedangkan kekurangan Pompa Sucker Rod adalah :
1.      Berat dan butuh tempat luas, transportasi sulit.
2.      Tidak baik untuk sumur miring / off shore.
3.      Butuh unit besar sekali untuk laju produksi besar dan sumur dalam.


















I. SUCKER ROD PUMPING (SRP)

Pengoperasian  Pumping Unit  (Sucker Rod Pump)  merupakan salah satu teknik pengangkatan buatan yang digunakan untuk membantu  mengangkat minyak dari dasar sumur ke permukaan tanah sampai ke tanki penampungan.
         Prinsip kerja Pumping Unit yaitu mengubah gerak rotasi dari  Prime Mover menjadi gerak naik turun oleh sistem Pitman Crank Assembly, kemudian gerak naik turun ini melalui walking  beam di teruskan ke Horse Head di jadikan gerak lurus naik turun  (Up Stroke dan Down Stroke) untuk  menggerakan plunger  pompa melalui rangkaian rod (rod string).
Dengan demikian minyak terpompa dari dasar sumur ke permukaan.
Peralatan sucker rod pumping terdiri dari :
  1. Peralatan diatas permukaan yang ( Pumping Unit ) secara garis besar terdiri:
    1. Prime mover (mesin penggerak)
    2. Gear reducer
    3. Beam pumping
  2. Peralatan bawah permukaan,  terdiri:
    1. Pipa tubing
    2. Rod string (rangkaian  rod)
    3. Pompa (Sub surface pump) 

2.  BEAM TYPE PUMPING UNIT

Beam Type Pumping Unit atau Sucker Rod Pump merupakan salah satu metode pengangkatan buatan (artificial lift) yang telah digunakan secara meluas pada lapangan minyak. Peralatan ini yang dapat memberikan gerakan turun naik (reciprocating motion) kepada rod string yang dihubungkan ke positive displacement pump dalam sumur minyak.
Perbaikan dari metoda ini, seperti yang dapat dilihat keadaan  sekarang, terus dilakukan oleh para ahli agar ia bisa lebih efisien .
Perbaikan dilakukan pada seluruh bahagian Bearn Pumping Unit terutama pada heavy duty speed reducer.
2.1.        MACAM-MACAM BEAM TYPE PUMPING UNIT.
Menurut standar American Petroleum Institue (API).  Pumping Unit dapat dibedakan ada tiga macam sbb:
a.    Standard atau Conventional Type.
Pada tipe ini samson post menopang walking beam pada bahagian tengah.  Pumping Unit tipe ini paling banyak dipakai pada industri perminyakan dan tersedia dalam bermacam-macam ukuran (ada yang mencapai 100 Horse Power).
Conventional type ini ada 2 (dua) bagian:
1.    Crank Counter Balance System; dimana counter weight dipasang pada crank.
2.    Beam Counter Balance System; dimana balancing load ( counter weight ) dipasang pada walking beam.


b.  Low Torque Unit ( Mark II unitorque pumping unit )
Pada tipe ini, samson post menopang walking beam pada bahagian ujung belakang.  Pada ukuran kerangka yang sama, biasanya unit ini membutuhkan Horse Power yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan conventional type.
Ia banyak dipakai untuk sumur-sumur minyak yang dalam dan produksi besar.  Ukuran yang tersedia tidak bervariasi banyak dengan terbesar sampai mencapai 125 Horse Power.


                   

c. Air Balance Unit
Pada tipe ini tabung udara yang bertekanan digunakan sebagai pengganti counter weight.  Pumping Unit ini lebih kecil dan ringan dari tipe unit yang lain dan diperlengkapi dengan air compressor.  Ukuran yang dibuat terbatas, tetapi ada yang mencapai 150 Horse Power.

Disain di atas diperlukan agar polished rod tetap dapat bergerak naik turun secara vertical tanpa ada gesekan yang besar dalam stuffing  box.
     Walking beam ditopang oleh samson Post di dekat titik beratnya. Gerakan mesin yang diberikan oleh crank diteruskan ke walking beam melalui Pitman.
Panjang langkah polished rod (PRSL = Polished Rod Stroke Lenght) di tentukan oleh jarak dari pitman bearing ke crank shaff .
Umumnya ada 3 (tiga) posisi atau lebih untuk mengatur PRSL tsb.
Counter balance (counter weight) sebagai penyeimbang beban saat naik dan saat turun.
Pada saat ke bawah tidak ada beban cairan, pumping unit dibebani oleh counter balance. Sehingga pada waktu upstroke maupun down stroke beban pada pumping unit harus tetap (balance).
Bila beban ke atas dan ke bawah ini tidak balance, maka pumping unit  dan mesin penggerak akan cepat rusak.

API telah membuat standarisasi  kode Pumping Unit :
     C     -     160D  -  173   -  64       
    (1)           (2)         (3)       (4)

Artinya:
  (1)         :        A  =  Air Balance
                         B  = Beam Counter Balance
                         C  = Conventional
                         M  = Mark II.
   (2)       :      160  = Peak torque rating, dalam ribuan In-lb
                         D  =  Double reduction gear reducer
   (3)       :      173  = Polished rod rating, dalam ratusan lb
   (4)       :        64  = Panjang langkah (stroke) maximum, in
                                 (panjang langkah yang lain 54 in dan 48 in )

2.2.        BAGIAN-BAGIAN UTAMA DARI PUMPING UNIT.
  A ¨  PERALATAN DI PERMUKAAN.
           Peralatan di atas permukaan ini berfungsi untuk memindahkan energi dari prime mover ke pumping unit di mana untuk selanjutnya diteruskan ke pompa bawah permukaan.
Peralatan ini juga berfungsi untuk mengubah gerak putar menjadi gerak naik turun melalui crank, pitman, dan walking beam, sedangkan gear reducer untuk menurunkan putaran tinggi dari prime mover menjadi rendah sesuai dengan stroke per menit pompa.

1.    Prime Mover  (Motor Penggerak )
      Suatu motor listrik atau gas engine dengan putaran 800 – 1200 RPM dipakai untuk menggerakkan Pumping Unit. Untuk motor listrik pada umumnya 3-phase, 440 volt, 60 cycle. Untuk gas engine menggunakan bahan bakar  gas alam. Ada juga yang menggunakan motor dengan bahan bakar solar atau diesel.

2.    Gear Reducer
Gear reducer berfungsi untuk menurunkan RPM motor menjadi RPM sesuai SPM pompa. Didalam terdapat roda gigi (gear) penurun RPM.
Untuk memindahakan tenaga atau energi dari prime mover ke gear reducer digunakan V belt yang dilindungi oleh belt cover untuk pengaman.

3.    Crank Arm
Crank Arm menghubungkan sumbu putaran rendah (crank shaft) yang keluar dari gear box yang berputar 360 derajat.  Lubang pada crank juga sebagai tempat kedudukan  crank pin bearing yang menghubungkan crank dengan pitman, dan tempat merubah panjang langkah pompa. Crank Arm juga sebagai tempat dari kedudukan counter weight.

4.        Pitman
Pitman dipasang untuk menghubungkan crank dengan walking beam,  
panjang.
                             
      
5.         Walking Beam
Walking Beam sebagai tempat kedudukan dari Equalizer bearing ( tail bearing ) dan dibawah ditopang oleh saddle bearing ( center bearing) yang tetumpu pada sampson post. Ujung depan walking beam terpasang horse head.
Walking-beam ini bersama pitman dan crank berfungsi  sebagai pengubah gerak putar menjadi gerak turun naik.

6.            Horse Head
Horse-head ditempatkan diujung walking beam dengan bentuk 1/8 lingkaran agar gerakan Rod string  naik turun ( reciprocating ) tetap senter dengan lubang sumur.

7.      Carrier Bar dan Wire line Hanger (Briddle)
Untuk menghubungkan horse head dengan polished rod digunakan wire line hanger (briddle) yang dikaitkan dengan carrier bar  pada polished rod. Untuk mencegah supaya carrier  bar tidak berubah posisinya , maka ditahan oleh  polished rod clamp.
Antara carrier bar dengan clamp sering dipasang spacer untuk tempat  dynamometer, guna mengukur beban pada polished rod.
Pada ujung paling atas polished rod dipasang polished rod eye  berfungsi untuk  keperluan well service untuk mencabut polished rod, dan melindungi drad pada ujung polished rod.
\
       
8.  Stuffing  Box.
 Dipasang diatas kepala sumur (well head) berfungsi : Sebagai pencegah atau menahan minyak agar minyak tidak menyembur keluar bersama-sama dengan naik turunnya polished rod sehingga aliran dapat  di atur ke flow line.  Didalam stuffing box terdapat packing untuk menahan bocoran minyak.

9.  Polished Rod
            Polished rod atau stang putih adalah stang penghubung antara rangkaian sucker rod di bawah permukaan dengan perangkat pumping unit di permukaan. Polished rod diperlukan hanya satu batang saja pada unit sucker rod pump tetapI polished rod mempunyai kekuatan yang melebihi sucker rod karena polished rod menahan beban maksimum seluruh rangkaian sucker rod. Polished rod mempunyai permukaan yang licin dan halus, terbuat dari baja keras.
Standard diameter polished rod : 1”, 1 1/8”, 1 ¼”, dan 1 ½”
Panjang polished rod : 8’, 11’,  16’,  dan 22’ .

10.   Counter Weight
Pada crank balance pumping unit, counter weight dipasang pada crank, sedangkan pada beam balance pumping unit, counter wight dipasang pada ujung belakang walking beam.  Counter weight berfungsi untuk memberikan balancing beban pada pumping unit  sehingga beban pada upstroke sada dengan beban pada down stroke. Dengan demikian beam pumping  unit tidak cepat rusak.

11.      Brake (Rem)
Rem berfungsi untuk mengatur posisi horse head kalau pumping unit harus dimatikan untuk keperluan perbaikan pada well atau pada Pumping Unit itu sendiri.


B . PERALATAN DI BAWAH PERMUKAAN.

 1).  POMPA (SUB SURFACE PUMP)
 Peralatan Sucker rod pumping di bawah permukaan terdiri dari 4 (empat) komponen utama, yaitu working barrel, plunger, travelling valve dan standing valve.
Berdasarkan cara pemasangan pompa dibawah permukaan ini diklasifikasikan menjadi 2 (dua) type yaitu:
·         Tubing pump.
Pada type ini working barrelnya dipasang langsung di ujung bawah tubing, dan diturunkan bersama tubing. Bila terjadi kerusakan pada working barrel atau standing valve maka untuk memperbaiki keseluruhan dari tubing harus dicabut.
·         Rod pump (Insert pump).
Pada type rod pump:  working barrel, plunger, travelling valve dan standing valve merupakan satu unit kesatuan yang dipasang langsung pada rod string, dan dijangkarkan dalam tubing .
Kapasitas pompa yang diperoleh lebih kecil karena ukuran plunger kecil., Apabila terjadi kerusakan pada barrel atau standing valve maka untuk memperbaiki  cukup cabut rod string , dan tidak perlu memcabut  tubing.
·         Komponen-komponen pompa bawah permukaan
        (sub surface pump) :
a.   Working Barrel, yaitu merupakan tabung silinder tempat naik turunnya plunger.
b.   Plunger, yaitu suatu piston panjang yang terbuat dari metal stainless steel dan bergerak naik turun (sesuai dengan prinsip pemompaan) yang berfungsi untuk mengangkat fluida dari dasar sumur ke kolom tubing hingga sampai ke permukaan. Plunger ada 2 macam, yakni:
Ø  Metal plunger  ( plain, dan grooved)
Ø  Soft packed plunger (ring type, cup type, kombinasi ring dan cup type)
            Plunger mempunyai nominal clearence antara 0,001 sampai 0,005 inchi di dalam barrel pompa, yang biasanya ditulis 0,001 fits atau 0,005 fits. Misalnya plunger dengan diameter 2 7/8 in fits -3, yang berarti plunger tersebut diameternya berkurang 0,003 inchi (tiga per seribu inchi).

c. Travelling valve, yaitu katup berbentuk bola, yang bergerak membuka dan menutup dan terletak pada plunger. Valve ini akan membuka disaat plunger bergerak turun (down sroke), dan menutup saat upstroke

d. Standing Valve, yaitu katup yang berbentuk bola dan terletak pada bagian bawah pompa yang berfungsi untuk menahan fluida agar tidak turun atau keluar dari working barrel pada waktu down stroke.

Contoh penulisan pompa bawah permukaan menurut standar API menggunakan kode sebagai berikut :

Code                ;   25      -      225      -      THC      -      11      -      4      -       4
Kelompok       ;  [1]             [2]              [3]              [4]           [5]           [6]
            Dalam bilangan angka ataupun hurup menjelaskan suatu ukuran ataupun jenis dari perangkat pompa tersebut, seperti pada tabel di bawah ini:
    Kelompok
Bilangan
Menyatakan Ukuran

[1]
[2]
[4]
[5]
[6]

25
225
11
4
4

Ukuran tubing, 2 7/8 in OD
Diameter pompa, 2 ¼ in
Panjang barrel pompa, 11 ft
Panjang nominal plunger, 4 ft
Panjang extention, 4 ft
Kelompok
Huruf
Menyatakan jenis

[3]

T
H
C

Jenis pompa : Tubing Type
Jenis barrel   : Heavy wall barrel
Jenis seating  : Cup type

Untuk penggunaan plunger yang optimal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
            Diameter Plunger                           Rate (bbl)
               1 ¼ in – 1½ in                            100
               1 ½ in – 1 ¾ in                               200
               1 ¾ in – 2 in                                               300
               2 in – 2 ¼ in                                               400
               2 ¼ in – 2 ½ in                               500
               2 ½ in – 2 ¾ in                               600
2. Gas Anchor
            Untuk menghindari turunnya efficiency volumetric pompa yang diakibatkan oleh banyaknya gas yang masuk kedalam pompa, maka dipasang Gas Anchor yang berfungsi untuk memisahkan gas dari cairan formasi sebelum fluida masuk ke dalam pompa.

Pada pengoperasian Sucker Rod Pump di lapangan sering terjadi gas locking, dimana pompa terkunci oleh gas yang berekspansi saat up stroke dan terkompresi disaat down stroke. Hal ini terjadi karena gas formasi banyak yang masuk ke dalam pompa.

3. Sucker Rod  (Batang Isap).
            Energi yang ditransmisikan dari peralatan di permukaan ke bawah permukaan melalui rangkaian sucker rod. Sucker rod  adalah stang baja yang pejal, menurut standar API mempunyai panjang 25 feet dan 30 feet.
Ukuran Sucker Rod menurut API : 5/8”, ¾”, 7/8”, 1” dan 1 1/8”. 
Ujung sucker rod berupa pin-pin, atau box-pin, untuk menyambung sucker rod untuk membentuk rangkaian (rod string) digunakan sucker rod coupling, dan untuk menyambung dua ukuran yang berbeda digunaka reducer coupling  (misalnya 7/8” x ¾ “ )
Ukuran Sucker Rod dapat dilihat pada tabel, Untuk desain dari harga maksimum tekanan kerja (working stress).
Sucker rod mempunyai working stress 30.000 psi untuk klas C,  dan 35.000 psi untuk klas D.


DIMENSI  POLISHED ROD
Diameter nominal     (in)
Panjang
(ft)
Diameter           pin-pin                (in)
Diameter Sucker Rod yang sesuai. (in)
  1
1 1/8
1 ¼
1 ½
      8,  11,  16
      8,  11,  16,  22 
           11,  16,  22
                  16,  22
¾
15/16,  1 1/16
1 3/16
1 3/8
½
5/8,  ¾
7/8
1
             
            Dalam perencanaan sucker rod dipilih rod yang ringan, yang berarti rod yang paling ekonomis tanpa mengakibatkan kelebihan stress pada rod. Rod yang digunakan tidak harus selalu sama diameternya, tetapi dirangkai (dikombinasi) dimana rod yang berdiameter paling kecil dirangkai pada bagian paling bawah. Kombinasi rangkaian ini disebut tappered rod string. Sedangkan apabila menggunakan satu macam rangkaian saja disebut untappered rod string.
4. Pony Rod
            Pony rod adalah batang baja, sama seperti sucker rod tetapi mempunyai panjang yang lebih pendek. Pony rod berfungsi untuk menyesuaikan panjang rangkaian sucker rod yang dibutuhkan sesuai dengan kedalaman pompa bawah permukaan. Ukuran pony rod sama dengan ukuran sucker rod .
Panjang pony rod mulai dari 1 1/3’, 2’, 3’, 4’, 6’, 8’, 10’ dan 12 feet.
5. Tubing
            Seperti pada umumnya sumur minyak, tubing merupakan media alir fluida formasi dari dasar sumur ke permukaan. Pada sumur minyak dengan metoda pengangkatan buatan menggunakan Sucker Rod Pump, tubing berfungsi pula sebagai tempat menggantungkan pompa dengan jenis Tubing Type.
Panjang tubing menurut standar API terbagi dalam dua range, yaitu:
 -  Range I , panjang 20 – 24 feet
-  Range II, panjang 28 – 32 feet
Jenis sambungan tubing : API Non Upset, API External Upset, Atlas Bradford, VAM.
Sedangkan Ukuran tubing menurut API  (OD): 2 3/8”,  2 7/8”,  3 ½”,  4”,  4 ½”.
Grade tubing : F.25,  H.40,  J.55,  C.75,  N.80,  P.105.


3. OPERASI  PUMPING UNIT.

A.   Prosedur Menghidupkan

       Pemeriksaan sebelum start
a.    Periksa V-belt kalau longgar atau putus, dll.
b.    Periksa polished rod, kemungkinan rusak atau kasar permukaannya
c.    Periksa baut-baut fondasi atau tie down kalau ada yang longgar
d.    Periksa level minyak pelumas dalam gear box dan grease untuk  semua bearing yang ada
e.    Periksa semua valve mulai dari wellhead sampai ke stasiun apakah     sudah terbuka.
f.     Pasang pressure gauge yang baik untuk mengetahui well  pressure.
g.    Periksa keseluruhan unit termasuk bridle yang hampir putus.

          Prosedur Start
a.    Lepaskan brake hubungan prime mover dengan gear reducer
b.    Hidupkan mesin kalau prime mover-nya menggunakan mesin.
c.    Lepaskan rem dan masukkan hubungan pumping unit dengan mesin.
d.    Atur kecepatan mesin sehingga sesuai dengan SPM yang diinginkan.  Kalau memakai electric motor, maka untuk mengatur SPM adalah dengan mengganti pulley (driving sheave) pada motor.
e.    Atur kekerasan stuffing box sehingga jangan terlalu ketat agar ada sedikit kebocoran untuk pelumas.
f.     Periksa dan dengarkan betul-betul keseluruhan pumping unit apakah ada baut-baut yang longgar, bunyi yang tidak wajar, terutama pada bearing-bearing dan gear box.
g.    Periksa apakah well atau pompa ada memompa atau tidak.
h.    Periksa keadaan polished rod apakah ada line-up atau tidak.


B.   Pemeriksaan rutin sehari-hari/Trouble shooting.

a.    Periksa rate pemompaan kalau berkurang coba cari apa penyebabnya.
b.    Dengarkan bunyi prime mover yang seharusnya sama pada waktu up-stroke dengan down-stroke.
c.    Periksa stuffing box apakah terlalu ketat atau longgar.
d.    Fondasi longgar, pumping unit bergetar dan bunyi-bunyi yang asing pada pumping unit itu sendiri.
e.    Periksa valve casing apakah seharusnya terbuka atau tertutup.
f.     Apakah semua bearing yang ada pada pumping unit diberi grease atau dilumasi menurut yang seharusnya atau tidak.
g.    Periksa load motor apakah seimbang sewaktu up-stroke dengan down-stroke.

3.            Sucker Rod Pumping Problems
Problem-problem yang sering dijumpai pada sucker rod pumping sehingga ia kurang atau tidak memompa sama sekali :

1.    Travelling valve bocor.
Pada waktu up-stroke traveling valve tidak menutup rapat dan fulida kembali turun.

2.    Standing valve bocor
Pada waktu down-stroke standing valve tidak menutup rapat dan fluida kembali ke wellbore.

3.    Plunger rusak atau aus, sehingga fluid yang slip diantara plunger dan pump barrel menjadi banyak,sebagian minyak turun melalui celah-celah antara plunger dan tubing ketika plunger bergerak keatas.



4.    Working barrel aus.
   Menyebabkan fluida bocor melalui celah antara plunger dan barrel

5.    Tubing bocor:
Fluida akan keluar memasuki ruangan casing.

6.    Gas yang terkurung dalam pump barrel (gas lock).
Pada waktu up stroke ,fluida masuk kepump barrel kemudian gas keluar dari fluida , sehingga terdapat gas dalam barrel.
Pada Down Stroke,gas yang berada dibawah plunger terkompres dan traveling valve tidak terbuka, sehingga fluida tidak masuk kepump barrel karena adanya gas yang terkurung dan tekanan dibawah plunger tidak sanggup membuka traveling valve. Pada waktu upstroke gas dalam barrel ekspansi, sehingga fuida dibawah standing valve tidak dapat membuka standing valve.

7.    Gas pound
Ketika pompa bergerak keatas ( up stroke ) fluida akan mengisi barrel dan tidak menyentuh bagian bawah plunger, akan terdapat ruangan kosong dan akan diisi oleh gas. Ketika pompa kembali bergerak kebawah ( down stroke ),gas akan terkompresi, sehingga gas  tersebut mampu mendorong traveling valve ( membuka) secara perlahan,(seharusnya terbuka penuh oleh fluida ) atau adanya permukaan fluida yang terisi oleh foaming (busa ) kejadian tersebut dinamakan gas pound.

8.    Fluid pounding
Pump barrel tidak terisi penuh sewaktu pompa up-stroke, sewaktu pompa kemballi pada langkah down-stroke, ujung plunger membentur permukaan fluida dengan cepat dan terjadilah suara benturan yang kuat.



9.    Sucker rod putus
      Sucker rod putus kebanyakan  gesekan antara rod string dengan tubing.     Untuk menghindari sucker rod putus biasanya dipasang sucker rod guide pada daerah yang sering putus, sehingga yang aus akibat gesekan dengan tubing adalah sucker rod guide nya.

10.  Valve bocor
       Baik standing valve maupun traveling sering bocor  pada umumnya disebabkan aus karena pasir atau kemakan aliran gas.

11. Scale dan  paraffin deposite
Scale atau endapan parafin dapat menyebabkan pompa stuck (macet) karena terjepit scale atau paraffin.

12. Sanded up
 Pompa bergerak keatas / up-stroke dimana fluida membawa pasir dan mengisi pump barrel sehingga terjadi penyempitan antara plunger dan pump barrel yang mana dapat menjadi plunger terjepit dan tidak dapat bergerak.

13. Pump stuck pada umunya:
a)    Adanya pasir/gravel yang terbawa dari runtuhan formasi sehingga mengisi celah dari plunger.
b)    Temperature sumur yang terlampau tinggi maka terjadilah  pemuaian pada plunger dan barrel pump,dimana muai plunger lebih besar dari muai barrel shingga plunger tidak dapat bergerak bebas ( terjepit ).
Sebaliknya jika muai barrel lebih besar dari plunger menyebab terjadi kebocoran, sehingga efisiensi pompa menurun.
c)    Adanya scale atau paraffin.



0 komentar :

Posting Komentar